Sabtu, 14 November 2009



Dalam tatap langit Aku juga ingin menatap bintang lama-lama Walau kusadari itu bukanlah purnama Walaupun aku takkan pernah bisa menyentuhnya Aku cuma ingin memandang Memperlihatkan sebuah kerinduan Dan ketidak-sampaian akan sebuah harapan Dan akupun akan terus menunggu untuk beberapa malam... Dalam sebuah perjuangan Masa sering melupakan, ataukah memang terlupakan!… Tapi aku tahu sebuah gejolak hanyalah sepenggal kisah Takkan pernah bisa melupakan kerinduan padanya Namun apa hendak dikata jika harus memilih dan berkorban dalam satu waktu!.. Cahaya mentari itu Hanya mampu bersinar dalam baraku Dan hanya api terdekatlah nyalaku Membuihkan embun ciptakan mutiara Dan tahukah sekarang siapa mutiaraku Kalian adalah bagian dari kuncup api itu… Dan segala persembahan tanganku berterima kasih padamu Sampai nanti selesai pengembaraanku Hadirnya bawa kecerahan Tak semudah lara terlupakan Demikian banyak pundakku berderak Gunung yang ditanggungkan sampai berapa lama menjadi bumi ini! Tahukah ia, masa yang habis sudah tercuri jalanku panjang… Masa yang semakin aneh Nasehat sudah jauh tercampak Kepandaian yang semakin melonjak semuapun terjebak Maka kata emas semoga adalah kenyataanku Tak terpisahkan dengan do'a, cukuplah jadi apapun yang mampu terucapku Dan hanya itulah yang mampu kuhadiahkan padanya Pengharapan do'a dan syukur dari amalan kecil hamba Jika satu kata tak lagi cukup berarti Apalah arti berucap… Jika semua adalah hati Tak perlu lagi segala yang jahat Kegelapan yang hadir Keabadian adalah kemenangan Dan nyala yang bergoyangpun musnah… Berlembar-lembar berlian ukiran pena Begitu sia-sia Kebodohan, kekayaan itupun lalu hilang percuma Hingga aku rela berlepas pinggang, sempat jatuh dalam jurang Baru tahulah aku, apakah sebenar kerugian… Apakah hijau itu masih bermakna Dalam kebutaan langkah Daun-daun itu adalah sementara kedamaianku Tahulah bahwa segala yang terang adalah mentari Bagi kami, bumi pun musnah lagi Hirup kedamaian dari sebuah bui Puncak langkahku tak pasti Namun fikirku sudah terhenti Harus menunggu apa lagi? Ku ingin memenangkan gejolak kini Pijakan yang sedemikian banyak kususun Kerikil sedemikian banyak kusandung Masih kurangkah bekalku? Dalam pengembaraan panjang Kurengkuh derita, masihkah aku terlena? Jalanku, jalanku jauuuh sekali… Sering kulupa langkah apakah ini Sering pula tak sadar dimanakah aku kini Bagaimana aku pulang... Dinginya hujan, aku sekarang bersama guyuranya Petir yang menyambar hanya mengganggu lamunanku saja Aku tak bergerak lagi, menunggu tuk keluar Setelah sekian lama dan terbang lagi… Aku benci berisik Aku yang tlah hilang Dimanakah darah mendidih itu, apakah telah beku? Takkan percaya, ini hanyalah garis lamunan yang kian menjalin namaku… Aku juga ingin tertawa seperti mereka Akupun tak beda jauh disisinya Cuma dalam rimba aku harus terus bercecer darah dan pena... Dunia yang semakin goncang Dimana pijakan?, kuingin terus bersandar... Dan aku menjadi yang tak terbayangkan… Ombakku Tak seperkasa karang itu Sampai kapan harus kelelahan bergoyang dalam ketidak-pastian Mampukah aku terus menahan bah berdatangan? Kebimbangan nafas… Demikian erat terbelenggu Sudah terlanjur menyatu Nafas apalagi yang akan memisahkanku!… Bimbangku, hati yang diterpa badai Ataukah memang aku ditinggalkan jiwa itu? Aku tiada tahu, apakah ini karena kehendak masa ataupun aku harus kembali berpulang padanya Dalam terang para bintang Akupun menunggu untukku berlari kembali kemuasal… Diam dan membatu Sampai kapan kusembunyikan kerianganku Sampai datang kelak temanku Hati yang berbunga itu Menaburkan benih dalam bisu Jadilah aku lenyap tanpa tahu Bahasa ini jadi sedemikian panjang dan kaku Aku hanya mampu bertahan dalam tutur keutuhanku Tak terpatahkan apapun, aku akan terus membelai hati itu Dan akulah sendiri jiwa itu… Kapan aku harus berkata Sedang mulutkupun sering lupa Kapan aku sadar Dalam kedamaian nafas tak terlupakan… Dan nantikan, Sampai hilang mati kelaparan Sampai satu purnama baru datang Aku akan segera berpulang Kala bintang ramai menghilang Kala musim semi datang Ku tak ingin bunga-bunga berguguran Dan bunga barupun bermunculan Walau entah dalam kelelahan… Karena aku harus terus berkejaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar